oleh

Membina Karakter Emas di Era Milenial

-Opini-1.397 views

Oleh: Desi Ratna Wulan Sari (Alumnus 2009, S2 Sosiologi Fisip Universitas Indonesia)

DEGRADASI moral dan karakter generasi muda saat ini memang perlu dikhawatirkan. Generasi era milenial berada pada titik kritis sebuah genetasi.

Dari agenda yang disuguhkan kepada mereka hanya menambah daftar hitam kondisi saat ini. Lihatlah, para milenial muda beranggapan bahwa menunjukkan identitas gaya hidup modern, hedonis, kebebasan berpikir dan berperilaku, pendidikan bergengsi, kesenangan pada fun, food, dan fashion merupakan keharusan sebagai eksistensi seorang milenial. Kerusakan masif sedang melanda generasi muda kita di negeri ini.

Banyak kasus remaja yang semakin meresahkan orang tua dan masyarakat. Seperti kasus pesta seks puluhan remaja di Kota Jambi, remaja di bawah umur terjaring razia di hotel di Kecamatan Pasar, Kota Jambi. Di antara mereka ada yang kedapatan membawa obat kuat hingga alat kontrasepsi (detik.com, 10 Juli 2020).

Kasus remaja lainnya yang terjadi di kota Pekanbaru, tepatnya di salah satu kamar hotel di Kecamatan Sukajadi, sangat membuat geleng-geleng kepala. Terdiri dari tujuh laki-laki dan sisanya perempuan. Mereka diduga pesta narkoba di sana. Narkoba jenis sabu ditemukan sebagai hidangan utama pesta remaja tersebut (liputan6.com, 11 Desembr 2019).

Begitu pun para orang tua akan menepuk dada mereka saat melihat tontonan anak muda sekarang, sungguh mengerikan. Terlebih para produser dan pembuat film memproduksi tontonan yang dianggap modern dan cocok untuk gaya hidup anak milenial. Seperti sinetron remaja yang sedang viral “Dari Jendela SMP” ditayangkan salah satu TV swasta nasional saat ini.

Betapa alur yang dikisahkan hanya seputar asmara, konflik percintaan, depresi karena romansa, dan alur-alur unfaedah pada remaja. Tentu, bagi masyarakat yang berpikir, sinetron ini justru tidak layak ditayangkan karena akan banyak menjerumuskan anak-anak yang menontonnya. Bahkan diberitakan sinetron ini banyak dikomplain masyarakat karena ceritanya yang menyimpang dari buku novel aslinya (kapanlagi.com, 8 Juli 2020).

Tepat pada Hari Anak Nasional Indonesia. Maka sangat disayangkan, ketika kita bercermin kepada generasi muda era milenial ini, sangat jauh dari kata generasi emas dan gemilang. Justru yang ada hanya kebobrokan moral akibat sistem sekuleris dan kapitalis yang telah memperdaya mereka. Anak muda sekarang memandang sebuah kesuksesan berupa materi dan kebebasan semata. Agama bukan lagi menjadi panutan dan tuntunan mereka saat ini.

Semestinya hari anak nasional mencerminkan keberhasilan dan kesuksesan seluruh anak Indonesia. Bagaimana negara memfasilitasi berbagai kebutuhan mereka. Bertanggung jawab dalam memberikan jaminan pendidikan terbaik, baik pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan. Namun nyatanya, hingga hari ini kita melihat bagaimana negara abai terhadap kebutuhan pendidikan mereka.

Semua pendidikan diserahkan hanya pada orang tua saja. Biaya pendidikan tinggi bukanlah urusan negara. Akibatnya banyak generasi muda era milenial yang putus sekolah. Kebijakan dan fasilitas yang ada, selalu tidak berpihak pada kemudahan akses pendidikan mereka, sungguh miris melihatnya.

Solusi Tuntas oleh Islam

Sejatinya, ketika melihat kemunduran satu generasi, Islam akan memandang hal tersebut sebagai satu kelemahan sebuah negara, bahkan sebuah peradaban yang harus segera diatasi dari akar masalahnya. Bagaimanakah Islam mengatasi masalah kerusakan generasi yang tersistematis ini?
Mari kita kembali menengok definisi dari pendidikan itu sendiri yang secara umum adalah sebuah proses perbuatan mendidik, ada pendidik dan ada yang dididik. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia menyatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin), intelek dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dari definisi tersebut setidaknya kita dapat pahami bahwa pendidikan menjadi sarana sekaligus solusi untuk menata kembali karakter bangsa dan menghentikan kebobrokan moral yang mengancam pemuda harapan bangsa. Keterkaitan antara keduanya tidak bisa dipisahkan (penj-agama dan pendidikan). Lalu pendidikan agama Islam dalam hal ini memiliki pengaruh besar dalam pendekatan untuk membina karakter cemerlang dan pastinya mampu menyelamatkan moral bangsa di negeri ini. Terlebih yang mayoritas muslim.

Bahwasanya Islam pun telah banyak memberikan contoh, bagaimana cara para tokoh muslim terdahulu, seperti Luqman al-Hakim dan para Nabi mendidik anak-anak mereka, yaitu calon generasi gemilang. Karena sejatinya pendidikan Islam harus diberikan sejak dini, sejak sebelum mereka lahir. Cara ini bukan sesuatu hal yang mudah, tetapi inilah beberapa hal yang harus diketahui dan dilakukan para orang tua, guru sebagai pendidik dan negara sebagai institusi pelindung pendidikan, dalam menciptakan generasi emas di era milenial. Generasi yang memiliki akhlak dan akidah yang kuat yang tertanam dalam dirinya. Pembentukan karakter tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara yang diajarkan nabi saw kepada kita, antara lain: 1) Mendengarkan Alquran sejak lahir. 2) Mengajarkan dasar-dasar Islam. 3) Memberi contoh dan mengajarkan sholat. 4) Mengajarkan tauhid. 5) Mengajarkan shalat. 6) Memberi nama anak yang baik. 7) Membacakan kisah para Nabi dan suri tauladan. 8) Perhatikan pergaulan anak. 9) Ajarkan berkata jujur dan menepati janji. 10) Mengajarkan orang tua adalah panutan anak. 11) Berperilaku adil pada setiap anak. 12) Memberi kasih sayang. 13) Mengajarkan anak nenutup aurat. 14) Mendidik perbedaan laki-laki dan perempuan. 15) Mendoakan anak.

Inilah senjata pamungkas bagi orang tua dan para pendidik generasi penerus peradaban mulia, Karena ketika orang tua mndoakan anak adalah termasuk cara mendidik anak, memberi contoh pada mereka bahwa kasih sayang juga bisa dicurahkan melalui kalimat doa kepada Allah azza wajalla.

Itulah dasar-dasar pendidikan dalam Islam yang wajib diberikan pada generasi muda di era manapun. Tidak hanya era milenial, bahkan sejak jaman Rasulullah saw hingga sekarang, pendidikan ini masih valid digunakan oleh umat Islam, saat ingin menciptakan generasi emas pembentuk peradaban dunia. Generasi yang amanah, mampu menjadi pemimpin umat, menjadi junnah umat di dunia. Generasi yang memiliki Integritas moral yang tinggi, selalu memegang teguh syariat berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadis di setiap kepemimpinannya. (***)

Loading...

Komentar