oleh

Ketika Pemanfaatan Sumberdaya Bertentangan Teori Hukum Alam

OLEH: DR. Rosmaeni, S.Hut.,M.Hut (Dosen Kehutanan Unsulbar)

BANJIR bandang di Kabupaten Luwu Utara beberapa waktu lalu menyisakan pilu mendalam, terutama bagi para korban.

Puluhan orang meninggal dunia karena hanyut dan tertimbun lumpur. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 19 Juli 2020, korban meninggal yang sudah ditemukan 36 orang. Korban meninggal kemungkinan terus bertambah, mengingat masih ada 40 orang yang dinyatakan hilang. Rumah-rumah mereka pun hancur dan tertimbun lumpur satu hingga dua meter.

Analisis terkait faktor penyebab banjir bandang ini bermunculan. Diantaranya dugaan pembalakan di wilayah hulu. Ada juga isu terkait tambang. Tapi hal ini dibantah Bupati Indah Putri Indriani. Ia menyebut banjir bandang yang menerjang enam kecamatan di wilayahnya akibat curah hujan yang cukup tinggi sejak Senin 13 Juli. Indah juga menerima laporan soal terjadinya banjir bandang di wilayah hulu Sungai Masamba. Ujar Indah kepada detikcom, Selasa 14 Juli.

Kalau karena tingginya curah hujan menjadi alasan satu-satunya banjir bandang tersebut, barangkali kesimpulan yang terlalu dini. Beberapa hari sebelumnya, sejumlah desa di Malangke juga terendam akibat luapan sungai. Artinya ada aliran permukaan tinggi terjadi pada wilayah hulu. Kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang masuk.

Beberapa faktor yang memengaruhi aliran permukaan yang tinggi diantaranya curah hujan, jenis tanah, topografi dan jenis vegetasi yang menutupi wilayah hulu tersebut. Faktor-faktor ini saling berhubungan atau saling memengaruhi. Tidak selamanya satu faktor menjadi bagian yang berpengaruh signifikan.

Curah hujan yang tinggi, jika penutupannya adalah tipe vegetasi hutan dan belum terganggu maka pengaruh lereng dan curah hujan bisa dikendalikan. Sebaliknya, meskipun curah hujan kecil jika penutupan sudah rusak apalagi pada daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan kondisi topografi berlereng, rata-rata kemiringan di atas 40 persen maka aliran permukaan akan besar. Pengaruh curah hujan menjadi signifikan.

Fakta-fakta lapangan banyaknya log-log (batang-batang kayu) yang terdampar di hilir Sungai Masamba ini satu indikator bahwa ada kemungkinan spot-spot lokasi yang sudah terbuka entah karena alih fungsi menjadi lahan petanian dan perkebunan atau kegiatan yang lainnya. Ataukah dugaan adanya illegal logging benar adanya.

Tapi tentunya ini masih harus dibuktikan langsung di lapangan. Tidak cukup jika pengamatannya hanya via udara. Tapi harus liat realnya di lapangan. Menurut hemat saya adanya bukaan vegetasi inilah yang menambah pengaruh curah hujan lebih signifikan.

Kondisi curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air akhirnya labil dan sangat mudah tergeser, ditambah akar-akar pohon sudah hilang sehingga tidak ada lagi yang mengikat/menahan agregat-agregat tanah tersebut.

Fungsi akar-akar pohon untuk meloloskan air hujan lebih banyak ke dalam tanah menjadi hilang. Jika demikian maka longsor sulit terhindarkan. Walaupun longsor adalah kejadian alami tapi ada faktor yang memperbesar dampaknya, salahsatunya kondisi penutupan vegetasi.

Teori Hukum Alam

Pada dasarnya alam semesta ini diciptakan Allah SWT dalam keadaan seimbang. Sejak Allah menurunkan pertama kali hujan ke bumi jumlahnya tidak berubah. Air hujan yang turun dan menguap kembali ke atmosfer kadarnya sama.

Jadi meskipun curah hujan tinggi jika kondisi ekosistem alam masih terjaga (tidak rusak), alam masih bisa manampung curah hujan tersebut. Tapi jika teori alam semesta ini ternyata tidak sesuai dengan kenyataan maka ada yang salah(error). Tentu bukan curah hujannya tetapi manusia yang memanfaatkan alam tidak sesuai kaidah atau hukum-hukum yang berlaku dalam pemanfaatannya.

Manusia adalah bagian dari ekosistem alam. Yang diberi kewenangan oleh sang pencipta sebagai khalifahtun fil ardh yakni mengelola alam sesuai kaidah. Sebab hutan diciptakan Allah SWT sebagai penyangga kehidupan diantaranya dapat mengatur tata air agar tidak terjadi banjir, erosi dan tanah longsor.

Vegetasi hutan mampu mendistribusikan jumlah air hujan yang jatuh dari langit ke bumi tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti. Jika pun terjadi erosi dalam hutan tetap dalam ambang batas.

Fungsi Hidrologis Hutan

Dalam hutan ada fungsi hidrologis yang berlangsung begitu teratur. Ketika curah hujan jatuh di atas permukaan tajuk maka air hujan tersebut akan ada yang mengalir ke ranting-ranting, lalu ke batang ini yang disebut aliran batang (stemflow). Selanjutnya akan mengalir melalui batang hingga mencapai pangkal bawah pohon dan masuk ke tanah mengikuti perakaran.

Adapula air hujan yang tertahan pada lapisan-lapisan tajuk kemudian terjatuh disela-sela tajuk ke bawah permukaan tanah ini yang disebut throughfall atau air lolos.

Air yang sampai ke permukaan tanah baik melalui aliran batang maupun air lolos sebagiannya meresap masuk kedalam tanah dan sebagiannya lagi akan menjadi aliran permukaan (runoff).
Air hujan yang terjatuh ke permukaan tanah ini energi kinetiknya sudah melemah. Sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan partikel-paetikel tanah.

Permukaan tanah hutan banyak tertutupi oleh serasah-serasah(litter). Serasah-serasah ini jika lapuk akan memperbaiki permeabilitas tanah yaitu kemampuan tanah meloloskan air. Permeabilitas yang baik akan banyak meloloskan air ke dalam tanah. Pada tanah-tanah hutan juga sangat poros disebabkan perakaran yang kompleks.

Selain aliran batang dan air lolos ada juga terjadi intersepsi yaitu air yang tertahan sejenak pada bagian-bagian tajuk lalu menguap kembali ke atmosfer. Meskipun nilai intersepsi pada tegakan hutan berbeda-beda antara daun jarum dengan daun lebar. Intersepsi pada hutan agathis 14,7% dan puspa 13,7% (Mulyana, et al., (2002).

Penelitian yang kami lakukan pada tegakan Pinus tahun 2017 lalu nilai intersepsinya sebesar 42,92% dari total curah hujan 904,5 mm. Intersepsi yang tinggi ini maka dapat dikatakan bahwa hutan dapat mengendalikan jumlah air yang sampai di permukaan tanah meskipun curah hujannya tinggi.

Banjir bandang di Luwu Utara ini perlu menjadi perhatian serius. Terkhusus pemerintah daerah sebagai penanggung jawab utama. Menjaga sumberdaya hutan di hulu penting dan harus tetap dipertahankan. Minimal 30 persen tetap harus dipertahankan sebagai kawasan hutan dari total luas daerah aliran sungai.

Pemanfaatan lahan harus mempertimbangkan aspek ilmu pengetahuan tidak boleh karena asas kepentingan atau berdasar kepada nilai-nilai materil semata. Jika ada masyarakat yang memanfaatkan lahan tidak mengikuti kaidah konservasi maka kewajiban pemerintah dalam hal ini dinas terkait untuk mengedukasi mereka. (***)

Loading...

Komentar