oleh

Coklit Sudah 70 Persen

MAMUJU — Pencocokan dan Penelitian (Coklit) oleh Petugas Pemuktahiran Data Pemilih (PPDP) KPU Mamuju, hampir rampung.

Ketua KPU Mamuju, Hamdan Dangkang mengatakan, pelaksanaan Coklit cukup menggembirakan di pertengahan masa kerja PPDP yang akan berakhir 13 Agustus mendatang.

Progresnya bahkan sudah mendekati 70 persen di 101 desa/ kelurahan di Kabupaten Mamuju.

“Bahkan ada kecamatan yang sudah rampung. Cuman karena akses jaringan yang menghambat pelaporannya,” kata Hamdan, saat dikonfirmasi di Graha Pena, Rabu 29 Juli.

Hanya saja, lanjut Hamdan, dalam Coklit tersebut PPDP masih banyak menemukan warga yang belum memiliki Kartu Keluarga (KK) dan KTP Elektronik. Terutama yang bermukim di desa terpencil di Kalumpang, seperti Sandapang dan Karataun.

Pihaknya tak mungkin menyuruh warga tersebut mengurus KTP dan KK di kota Mamuju. Karena biaya perjalanan dari desa mereka ke kota Mamuju terbilang tinggi. Ojek dari desanya saja ke ibu kota kecamatan Kalumpang sampai Rp 500 ribu. Kalau ke kota biayanya pasti lebih tinggi.

“Itu menjadi kendala dari PPDP. Tapi kami perintahkan catat saja dulu. Supaya kami bisa tindak lanjuti ke Disdukcapil Mamuju,” beber Hamdan.

Ketua Bawaslu Mamuju, Rusdin menyebut, dalam penyelenggaraan Pilkada, Bawaslu Mamuju hanya mampu melakukan pengawasan partisipatif di masyarakat.

“KPU melaksanakan teknik pelaksanaan. Sementara Bawaslu itu pengawasan. Peran media juga sangat diharapkan dalam Pilkada ini,” ujar Rusdin.

Rusdin juga menyinggung soal iklan kandidat di media massa. Menurutnya, iklan di media jangan ada berbau provokatif. Karena akan bisa kena pasal pidana, jika pengiklanannya belum difasilitasi oleh KPU.

“Harus adil kepada setiap pasangan calon,” bebernya.

Direktur Utama Radar Sulbar, Naskah M. Nabhan mengungkapkan, media cetak masih dianggap sebagai penengah dan penyeimbang di tengah arus informasi di media sosial.

“Kami sangat profesional dan selektif terkait masalah pemberitaan,” tegas Naskah.

KPU dan Bawaslu Mamuju berkunjung ke Graha Pena Mamuju, bersilaturahim merawat kemitraan, khususnya terkait edukasi kepemiluan melalui pemberitaan. Sebab, di tengah pandemi, frekuensi sosialisasi dari KPU-Bawaslu berkurang. (m2/rul)

Loading...

Komentar