oleh

Nilai-Nilai Luhur Pancasila

AKHIR-AKHIR ini, Pancasila kembali menjadi buah bibir masyarakat Indonesia dengan keluarnya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pacasila (RUU HIP) oleh Baleg DPR.

Oleh: Anton Ranteallo, SS, M.Pd (Pemerhati Pendidikan)

Tidak bermaksud mengomentari konsep tersebut, yang pasti bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah final, tidak perlu diperdebatkan lagi. Pancasila tidak perlu dipertanyakan lagi apalagi diringkas, disatukan atau direduksi. Ia sudah final, titik.

Dengan Pancasila, masyarakat hidup rukun dan damai karena sudah menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia sejak bebas dari kolonialisme.

Pancasila sebagai dasar negara mengadung 5 sila yang sudah diajarkan sejak SD hingga Perguruan Tinggi. Pancasila sebagai way of life sudah teruji mampu memersatukan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang sangat majemuk dalam hal suku, bahasa, agama, adat istiadat, dan kebudayaan. Kemajemukan ini bertemu pada realitas akan adanya nilai-nilai yang majemuk pula, yang terbentuk dalam kelompok-kelompok etnis. Perekat dari kemajemukan itu adalah Pancasila.

Nilai-nilai yang terkadung dalam Pancasila sangat penting dalam membangun persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa. Pancasilah sebagai pandangan hidup mengandung nilai luhur yang ada, tumbuh, dan berkembang bersama bangsa Indonesai sejak sedia kala.

Maka semua sikap warga negara harus sesuai dan menuju ke arah tujuan tersebut adalah baik dan benar. Sebaliknya, bila ada sikap yang berbeda atau tidak searah, maka sikap itu kurang baik dan kurang benar.

Nilai-nilai pancasila sebagai pandangan hidup merupakan ukuran bagi baik buruknya, benar salahnya sikap warga negara Indonesia secara nasional. Pancasila merupakan tolok ukur, penyaring atau alat penimbang bagi semua nilai yang ada. Pancasila mempunyai kedudukan dan kebenaran tertinggi dibanding nilai-nilai yang lain.

Kelima butir Pancasila harus ‘dihafal mati’ karena inilah pedoman kita sebagai bangsa Indonesia. Selain sudah diajarkan sejak dini, Pancasila juga dibacakan setiap hari Senin dan hari-hari Besar Nasional. Jadi bagaimana tidak memori kita diingatkan dan dibangkitkan oleh dasar Negara kita itu, gelora keindonesiaan kita diteguhkan.

Pancasila adalah pedoman hidup sehari-hari, dimana hidup itu dilaksanakan dengan dan dalam aneka perbuatan. Maka sesuatu yang menjadi pedoman hidup harus merupakan pedoman perbuatan sehari-hari. Hidup manusia itu kesatuan, tetapi dilakukan dalam dan banyak perbuatan. Hidup itu perse kesatuan atau integrasi.

Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia di dalamnya terkadung nilai humanisme yang religious dan sosialistis. Humanisme berarti melihat manusia sebagai mahkluk yang mempunyai struktur sendiri dalam dunia ini makanya harus menuju ke situ dan cara hidup yang sesuai dengan struktur tersebut. Bertindak di luar itu disebut inhuman.

Humanisme menuntut penyempurnaan manusia dalam hidup agar berkembang, berkebudayaan, dan bisa menikmati kehidupan secara layak. Humanisme pun bisa bersifat a-religius, tanpa keagamaan. Dalam hal ini memungkiri soal ketuhanan. Maka perlu menginternalisasi kembali makna sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua percaya, Tuhan adalah asal dan tujuan semua umat manusia. Segala sesuatu tertuju kepadaNya.

Perikemanusiaan merupakan persaudaraan dari seluruh bangsa manusia di seluruh dunia berdasarkan human nature. Maka silah kedua Pancasila, perikemanusiaan sering disebut internasionalisme, cita-cita keluarga besar yang meliputi seluruh bangsa manusia.

Perikemanusiaan juga berarti membangun kebudayaan bersama, membangun “rumah” bersama untuk seluruh keluarga di dunia. Perikemanusiaan adalah cinta kasih kepada sesama berdasarkan kesatuan keluarga itu. Ketiga arti perikemanusiaan ini berkaiatan satu sama lain, tak terpisahkan.

Kesatuan tersebut tentu belum sempurna karena kerap kali disalahgunakan oleh egoisme, keserakahan, ketamakan, perebutan kekuasaan diri atau kelompok. Namun jika tahap ini tidak dilalui bangsa manusia tidak akan sampai ke tahap yang lebih sempurna. Sukar rasanya jika suatu bangsa ingin menyempurnakan kesatuan dan persatuan itu dari luar.

Tetapi bagi Negara Pancasila, yang pandangannya begitu luas dan mendalam harus ada perhitungan lain. Pandangan Pancasila adalah berdasarkan human nature yang menuntut kesatuan itu. Kewajiban kita adalah ikut serta menyempurnakan kesatuan itu dari dalam. Inilah tugas berat kita sebagai warga Negara, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dapatlah dikatakan bahwa sikap yang diharapkan dari sila perikemanusiaan ini adalah sikap yang mengakui, menghendaki, dan sanggup ikut menyelenggarakan dan menyempurnakan keluarga bangsa manusia untuk membangun kebudayaan bersama, kesejahteraan bersama (bonum commune) damai bersama, dan tentu bahagia bersama.

Dengan berani mencantumkan nilai Kemanusiaan ini sebagai sila kedua Pancasila berarti kita sebagai bangsa Indonesia sanggup melakukan tugas mulia itu. Itu berarti Negara kita bersikap terbuka. Negara kita pun sanggup menerima berbagai perbedaan dan berbagai identitas bangsa. Yang ada pada level nasional kita alihkan ke level internasional. Jadi demi sila Perikemanusiaan kita harus mempunyai orientasi mondial dalam penegakan human dignity.

Sila ketiga Pancasila mengharapkan kita untuk selalu bersatu sebagai satu bangsa dan tanah air. Negara ini dibangun di atas aneka perbedaan, suku, agama, ras, dan golongan. Maka sebagai warga Negara yang baik, kita harus saling menghargai, membangun solidaritas dan soliditas satu sama lain.

Sila keempat, ingin menunjukkan bahwa untuk mencapai suatu kesepakatan, perlu berdiskusi, berdialog bersama secara bijaksana, saling mendengarkan dan menghargai perbedaan pendapat menuju suatu kesepakatan bersama.

Sila kelima mengandung tujuan bangsa Indonesia adalah terciptanya keadilan social bagi seluruh warga Indonesia. Itu mengandaikan tidak ada yang dominan, otoriter dalam aneka bidang kehidupan.

Karena setiap orang punya harkat dan martabat yang sama, tidak ada yang lebih juga tidak ada yang kurang. Jadi sekali lagi, saling menghargai dan menghormati itu suatu keharusan.

Sejatinya nilai paling mendasar yang terkandung dalam Pancasila adalah keluhuran martabat manusia, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena selama ini kemanusiaan kita belum mendapat perlakuan yang semestinya secara adil dan beradab.

Universalitas kemanusiaan acap kali dilupakan. Ketidakadilan sosial masih merajalela. Kita bisa melihat, diskrimainasi sosial tiada henti tindakan kekerasan terhadap anak bangsa berlangsung hingga sekarang. Akibat dari semua itu kepincangan hampir terjadi dalam setiap segmen hidup manusia. Manusia tidak diperlakukan semestinya.

Maka marilah kita merenungkan nilai-nilai yang terkadung dalam Pancasila dan rela untuk melaksanakan dalam kehidupan bersama. Pancasila adalah dasar Negara kita, mari kita jaga bersama.

Secara singkat nilai-nilai luhur yang diperjuangkan dalam Pancasila yakni nilai religiositas, kemanusiaan, demokrasi dan keadilan sosial yang menyangkut hidup bangsa.

Nilai-nilai tersebut memotivasi setiap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, tanpa menyisipkan kepentingan sekretarian apa pun yang bertentangan dengan cita-cita luhur pendiri NKRI. Pancasila dulu kini dan nanti. Merdeka! (***)

Loading...

Komentar