oleh

Syawal, Titik Awal Menuju New Normal Life

SYAWAL dalam bahasa Arab bermakna irtafa’a dan izdada yaitu berarti meningkat dan bertambah. Dari Syawal ini kita meningkatkan dan menambah imunitas sosial kita untuk memasuki babak baru dalam hidup.

Kita berharap bulan-bulan sebelumnya termasuk bulan Ramadan telah banyak memberikan pelajaran penting dalam hidup ini di tengah pendemik Korona khususnya pelajaran keterbiasaan baru menuju New Normal Life.

Bulan Syawal kita jadikan sebagai titik awal memulai pola hidup baru dalam menghadapi era pandemi covid-19 yang entah kapan berakhir ini. Dan Ramadan telah menggembleng kita untuk memulai keterbiasaan baru itu.

Ada sejumlah instrumen menuju new normal life yang telah kita pelajari di bulan Ramadhan yaitu antara lain; Pertama, di antara tujuan puasa agar sehat secara jasmani dan rohani. Untuk mendapatkan sehat jasmani dan rohani itu didapatkan dari keterbiasaan dengan gaya hidup yang bersih dan higenis.

Sudah lebih 3 bulan umat Islam Indonesia membiasakan pola hidup bersih antara lain rajin mencuci tangan sebagai simbol membersihkan diri, memilih dan memilah pangan yang halal dan sehat, menjaga kebugaran tubuh, serta menjaga lingkungan tetap dalam keadaan asri, nyaman dan bersih.

Kedua, keterbiasaan menjaga pola interaksi dengan orang lain baik dengan individu maupun sosial. Melakukan physical distancing dan social distancing selama pandemi covid-19 merupakan style baru dalam melakukan interaksi dengan orang lain.

Membatasi diri melakukan kontak individu dan sosial dimaknai sebagai keseimbangan dalam bergaul dalam kehidupan antara kebutuhan sosial dengan kebutuhan keluarga. Kalau selama ini sejumlah orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan orang lain daripada dengan keluarganya, sehingga komunikasi intensif dan saling menguatkan dalam keluarga tidak terlaksana.

Membangun budaya interaksi dengan keluarga yang harmonis dan dinamis hanya dapat dicapai dengan kuantitas dan kualitas interaksi itu. Physical dan social distancing juga dimaknai sebagai upaya memproteksi diri sedini mungkin dari akibat pergaulan yang tanpa batas dan tanpa selektif.

Betapa banyak orang menjadi rusak mental dan akhlaknya secara sosial karena pengaruh negatif dari pergaulan tanpa batas dan selektif. Awal mula penyebaran virus Korona di Indonesia dari pergaulan bebas antara oknum WNI dengan oknum WNA asal Jepang.

Ketiga, keterbiasaan mengindahkan imbauan keselamatan bersama. Imbauan pemerintah baik oleh pemerintah daerah maupun lembaga MUI untuk tidak mudik, tidak melaksanakan salat jamaah dan Jumat di masjid, menutup sementara sarana-sarana publik dan tempat-tempat umum lainnya merupakan imbauan keselamatan bersama seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh umat manusia.

Mengindahkan berbagai imbauan demi keselamatan bersama ini kelak akan menjadi kebiasaan baru dalam hidup kita. Betapa imbauan keselamatan bersama ini amat penting bagi setiap kita dalam menghadapi berbagai suasana-suasana yang mungkin lebih memerlukan kebersamaan kita dalam menghadapinya.

Pelajaran penting dari keterbiasaan mengindahkan imbauan keselamatan bersama ini akan menjadi nilai baru dalam hidup kita. Alhasil, kita akan menyongsong hari-hari depan ini dengan new normal life yang telah terbiasa dalam diri kita. (***)

*Mimbar; Husain Alfulmasi

Loading...

Komentar