oleh

Ramadan versus Virus Korona

SAAT INI, umat muslim diberikan cobaan dan tantangan, Ramadan di tengah maraknya penyebaran virus korona. Menjadikan banyak pembelajaran untuk giat melaksanakan ibadah, menggugurkan dosa yang telah diperbuat.

Menyambut Ramadan berbagai pendekatan tradisi dilakukan masyarakat, seperti membuat vestifal obor atau melakukan syukuran. Sebagai penyambutan, bukti kecintaan akan datangnya bulan penuh berkah. Namun tradisi tersebut, saat ini tidak banyak dilakukan akibat pandemi virus korona. Saat ini, bulan suci dihantui wabah korona yang mengakibatkan sebagian ibadah dilaksanakan di rumah masing-masing.

Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil keputusan melihat kondisi bangsa yang kini dilanda wabah, akhirnya mengeluarkan fatwa pelarangan.

Adapun hikmah yang bisa dipetik menjalankan ibadah puasa seperti, melatih kesabaran, belajar untuk tidak membohongi diri sendiri. Saatnya mendekatkan diri kepada sang pencipta melalui penyempurnaan ibadah, baik bersifat individu maupun sosial.

Pakar Tafsir Alquran, Muhammad Quraish Shihab mengurai sejumlah catatan terkait puasa di Bulan Suci Ramadan. Menurutnya, secara umum ibadah puasa bertujuan meraih taqwa. “Takwa hakikatnya menghimpun segala macam kebijakan dan kebajikan,” ujar Quraish Shihab dikutip NU Online dalam program Mutiara Hati yang rutin tayang di salah satu stasiun televisi.

Terkait hakikat takwa tersebut, lanjut Prof Quraish, secara singkat dalam konteks ibadah, ibadah termasuk puasa bertujuan mengingatkan manusia akan dua hakikat yang harus dihayati dalam kehidupan ini.

Pertama, manusia adalah makhluk dwi dimensi yang terdiri dari jasad dan roh. Ibadah puasa dan semua ibadah hendaknya juga sebagai pengingat bahwa kita perlu memberi perhatian pada jasmani serta wajib mengasah dan mengasuh rohani.

Kedua, mengingatkan manusia bahwa hidup di dunia. Tetapi hidup berlanjut hingga ke akhirat nanti. Dari sini dapat dikatakan, bahwa setiap kewajiban dan anjuran yang ditetapkan dalam konteks berpuasa punya makna yang mendalam dan mendapat perhatian.

Bulan Suci Ramadan tahun ini berbeda dari bulan puasa sebelumnya, dikarenakan wabah korona membatasi segala aktivitas beribadah di masjid. Mari bersama melawan wabah virus korona dengan melaksanakan ibadah di rumah. Saat ini, memerlukan kesadaran bersama untuk tetap di rumah. Mematuhi fatwa ulama.

Perang melawan virus korona tidak mengedepankan ego. Wabah ini akan sulit dihadapi jika berbagai aktivitas kita banyak bertentangan dengan anjuran dan instruksi pemerintah.

Pada bulan mulia ini, mari mematuhi imbauan sebagai tanda ketaatan dan kepatuhan serta membantu memutus rantai virus korona. Sembari memperbanyak zikir, ibadah, dan berdoa mudahan-mudahan wabah tersebut segera sirna. (***)

 

–Oleh: Ma’ruf, S.Pd.I (Guru MTs. Husnul Khatimah Polewali)–

Loading...

Komentar