oleh

Idul Fitri di Tengah Pandemi

BARU kali ini hari raya Idul Fitri dirayakan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, dengan suasana berbeda.

Oleh: Indah Dahriana Yasin (Pengasuh Majelis Samara Makassar)

Pandemi covid-19 telah mengubah wajah dunia seketika hanya dalam hitungan beberapa bulan saja.

Suasana lengang akibat kebijakan lockdown yang diterapkan oleh beberapa negara. Bahkan di Indonesia dengan kebijakan physical distancing dan PSBB untuk beberapa tempat yang terdampak zona merah.

Suasana Ramadan yang hadir di tengah pandemi pun seketika berbeda. Tak ada ngabuburit di sore hari menjelang buka puasa, warung makan dan kafe sepi dari acara buka puasa bersama, bahkan masjid pun ditutup dari shalat berjamaah baik shalat jumat, tarawih maupun ittikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Mudik sebagai salah satu kebiasaan yang ada setiap lebaran dilarang, bahkan shalat ied di tahun ini juga ditiadakan.

Namun, semangat Idul Fitri tetap ada di tengah masyarakat. Terbukti dengan aktivitas yang meski terhalang physical distancing dan PSBB, tapi masih terlihat.

Beberapa pasar di akhir-akhir Ramadhan penuh orang-orang berbelanja untuk persiapan lebaran.

Berbelanja pakaian maupun bahan-bahan membuat makanan khas lebaran. Bahkan mal-mal di beberapa daerah pun telah dibuka untuk masyarakat.

JAGA JARAK AMBYAR AKIBAT TAK SABAR

Imbauan jaga jarak, ambyar akibat dibukanya kembali fasilitas-fasilitas perbelanjaan.
Pasar penuh sesak tanpa ada rasa takut akan terjangkit virus.

Mal-mal diserbu ‘pemburu’ diskonan. Moda transportasi pun dibuka. Sehingga antrean di Bandara kembali panjang oleh pemudik.

Maka wajar jika angka penyebaran virus covid-19 semakin meningkat. Kasus konfirmasi positif covid-19 di Indonesia terus bertambah. Sabtu (23/5/2020) bertambah menjadi 21.745 kasus. Demikian diungkapkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta.

Sementara itu, penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 391 kabupaten/ kota yang berada di 34 provinsi.

Salah satu esensi dari bulan Ramadan adalah menahan diri, termasuk menahan untuk berdiam diri di rumah dalam rangka mengurangi penyebaran virus covid-19. Ramadan telah mengajarkan kepada kita semua untuk menetapi kesabaran.

Berbicara tentang kesabaran di masa pandemi ini, maka sudah seharusnya kita bersabar untuk tidak keluar rumah dan berada dalam kerumunan orang banyak, bersabar untuk tidak mudik berkumpul bersama keluarga. Namun, sabar bukan hanya untuk individu masyarakat tapi juga pemerintah.

Keberadaannya sebagai pengayom rakyat, harusnya mampu menjadi teladan dalam menetapi kesabaran.

Bersabar atas musibah pandemi dengan tetap mengeluarkan kabijakan dengan tegas untuk menjaga masyarakat dari bahaya virus covid-19 sembari mencari solusi agar masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan pokoknya selama pandemi tanpa harus keluar rumah.

MERAIH KEMENANGAN HAKIKI

Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan, setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan.

Namun kemenangan hakiki bukanlah semata kita mampu menahan makan dan minum. Kemenangan hakiki adalah meraih ketakwaan dan mewujudkannya dalam diri kita.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim”. (TQS Ali Imran:102).

Kata Takwa berasal dari kata Waqa’. Artinya, melindungi. Kata tersebut digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah. Caranya tentu dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larang-Nya.

Takwa menurut Thalq bin Habib, seorang Tabi’in, salah satu murid Ibnu Abbas ra., Dikatakan:

“Takwa adalah mengerjakan ketaan kepada Allah Subhanahu wa ta a’la berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya”. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/2440).

Oleh sebab itu, takwa haruslah total. Mewujud dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya pada tatanan individu, tapi juga masyarakat bahkan negara.

Ramadan tahun ini yang datang di tengah merebaknya pandemi virus covid-19 telah memberikan edukasi sangat besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Telah mengingatkan kita bahwa kita tidak mempunyai daya dan upaya melainkan Allah.

Covid-19 yang kasat mata telah mampu mengguncang dunia bahkan melumpuhkan perekonomian negara termasuk negara-negara adidaya seperti Amerika dan negara-negara Eropa. Seharusnya kita menjadikan Ramadan dan Idul Fitri ini sebagai momentum taubatan nashuhah.

Khususnya bagi seluruh kaum muslimin. Terutama setelah merasakan musibah yang menimpa umat manusia saat ini agar kembali kepada jalan Allah dengan melaksanakan seluruh perintahNya secara menyeluruh. Wallahu a’lam bisshawab. (***)

Loading...

Komentar