oleh

Guru Real Vs Guru Virtual

SETIAP manusia adalah mahkluk sosial karena ia hanya dapat hidup dan berkembang dalam kebersamaan.

Oleh: Anton Ranteallo, SS, M.Pd (Pemerhati Pendidikan)

Senada apa yang ditulis oleh penyarir Inggris, John Donne abat XVII: “No Man is an Island” atau tak ada seorang manusia yang dapat hidup bagaikan sebuah pulau di tengah samudera.

Lingkungan adalah tempat tumbuh-kembangnya seseorang melalui interaksi sosial, antara manusia yang satu dengan manusia lain, baik formal maupun informal akan melahirkan sebuah pengalaman hidup.

Maka terkadang kita mendengar, pengalaman adalah guru yang bijaksana. Guru bukan dalam arti pendidik, tentu saja. Maka tidak salah bila dikatakan setiap orang adalah guru yang dapat mentransfer pengetahuan melalui pergaulan hidup kepada orang lain.

Ki Hadjar Dewantoro, Tokoh Pendidikan Nasional pernah mengatakan: “Seseorang atau suatu komunitas bahkan suatu bangsa, akan maju kalau memanfaatkan sekolah ada di mana-mana dan guru ada pada setiap orang”. Sekolah tidak hanya dalam ruang kelas (formal), tetapi pada setiap proses interaksi dengan lingkungan. Demikian juga guru, tidak hanya sosok yang ada di kelas tetapi juga yang hadir dalam bentuk buku atau tulisan dan berbagai sumber informasi lain yang kini dapat disebut guru virtual.

Menurut UU RI 14/ 2003 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Berarti, seorang guru harus memiliki berbagai kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi dalam mendidik.

Sebelum teknologi berkembang pesat seperti saat ini, guru masih dipahami sebagai seseorang yang berdiri di depan kelas mengajar, menjelaskan berbagai ilmu dan pengetahuan. Inilah proses belajar-mengajar konvensional yang memadukan antara tujuan utama dan tujuan pengiring pendidikan.

Sebetulnya perjumpaan langsung guru-siswa dengan sendirinya sudah terjadi proses belajar-mengajar. Melahirkan kedisiplinan, tanggung jawab, motivasi, pembinaan karakter, moral, etika. Ada bimbingan mental spiritual, bimbingan konseling, dsb. Dapat dikatakan guru adalah all in one.

Unsur positif lain yang muncul dari interaksi guru dan siswa adalah saling mengenal latar-belakang yang sedikit banyak berpengaruh dalam approach proses belajar mengajar. Selain itu antara guru sendiri saling mendukung dan mengisi dalam banyak dimensi. Seluruh perangkat sekolah menyatu dalam diri guru dan siswa yang akan membentuk menjadi pribadi lebih baik.

Hal yang mencedarai dunia pendidikan adalah kekerasan pisik dan psikis, baik terhadap siswa maupun guru, bahkan siswa dengan siswa sendiri. Lebih para lagi bila orangtua juga ikut memperkeruh suasana dalam sekolah. Ada saja orangtua marah bila anakknya ditegur atau sedikit dijewer.

Sejatinya guru yang pertama dan utama adalah orangtua di rumah yang harus mengajarkan habit dan kedisiplinan lebih awal. Di rumahlah anak-anak mendapatkan kasih sayang pertama dan utama. Guru yang ada di sekolah tinggal memperdalam hasil pengetahuan anak dari rumah. Konon, ala bisa karena biasa.

Kasus Covid-19 memberikan banyak pelajaran reflektif bagi kita semua, khususnya orangtua dalam mendidik anak-anak. Muncul cerita-cerita pendek lucu di media sosial yang bercerita mengenai bagaimana orangtua mengajar anaknya sendiri di rumah, learning at home. Memperlihatkan orangtua mengajar anak-anakknya dengan tidak sabar, marah-marah karena tingkah laku anaknya yang tidak sesuai harapan. Hanya sebuah cerita, tapi paling tidak menggambarkan kondisi orangtua dalam mendampingi anaknya tidaklah gampang.

Jadi inilah titik balik orangtua yang suka menyalahkan guru bahwa mengajar itu tidak mudah. Dibutuhkan berbagai skill. Maka itu, orangtua tidak seyogianya cepat memvonis guru bila mendidikan anak-anaknya dengan sedikit teguran bahkan jeweran. Itulah seni dalam dunia Pendidikan. Itu tanda diperhatikan, disayang oleh guru. Guru berharap agar anak didiknya menjadi pribadi dewasa, mandiri berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Selain guru real kini juga muncul guru virtual berkat kemajuan teknologi. Guru virtual ini adalah guru serba bisa, all round, apa saja yang ditanyakan akan dijawab, bahkan mungkin terlalu bombastis bila dikatakan guru virtual ini lebih hebat dari guru konvensional, karena ia mampu menjawab setiap pertanyaan by google.

Memori guru virtual sangat kuat, dimana kita bisa mengakses semua informasi dari zaman lampau hingga yang paling mutakhir. Kemajuan Iptek yang semakin sophisticated memungkinkan setiap orang dapat berguru secara virtual.

Dunia maya pun menyediakan aplikasi ruang guru, ilmu pedia, dll. Dapat kita akses untuk mendapatkan berbagai informasi. Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim juga mengontrak channel TVRI sebagai media pembelajaran -pada musim Covid ini– untuk jenjang PAUD, Pendidikan dasar dan menegah yang dimulai pada Senin (13/4).

Maka baik guru real maupun guru virtual keduanya mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada subyek terdidik. Dimensi pedagogik siswa diisi dengan aneka pengetahuan, dari tidak tahu menjadi tahu. Prasyarat guru virtual ini adalah ada sara untuk itu: ada android, jaringan, pulsa, dsb. Bila itu tidak terpenuhi, siswa tidak bisa berbuat banyak.

Sementara prasyarat guru real adalah kemauan, bersertifikat dan berkompetensi. Selain mengisi dimensi pedagogik, guru real juga mengisi dimensi psikomotorik, sosial, religius siswa, yang tidak ada pada guru virtual.

Jadi guru real merupakan pendidik yang komprehensip. Kehadiran sosok guru sangat penting dan utama dalam mengisi “roh” siswa. Tetapi, kedua guru ini saling melengkapi dalam berbagai aspek. Mari saling berguru satu sama lain. Jayalah kita sang guru! (***)

Loading...

Komentar