oleh

Distapang Kampanyekan Diversivikasi Pangan Lokal

MAMUJU — Tingginya permasalahan stunting di Sulbar tidak lepas dari rendahnya konsumsi pangan masyarakat. Konsumsi pangan terus mengalami penurunan dari tahun ketahun, terutama pangan yang kandungan gizinya berkontribusi besar terhadap pertumbuhan anak.

Jika permasalahan ini dibiarkan, kemungkinan angka stunting di Sulbar akan semakin tinggi, dan mengancam pertumbuhan fisik dan kecerdasan generasi penerus pembangunan di Sulbar.

Untuk itu, Dinas Ketahanan Pangan (Distapang) Sulbar melaksanakan gerakan kampanye diversivikasi atau penganekaragaman pangan lokal di Hotel Diana Mamuju, Senin 2 Desember 2019.

Asisten II Pemprov Sulbar Hamsah mengatakan, kegiatan ini sangat penting dan strategis, karena pangan adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Begitu pentingnya, sehingga pemerintah menjadikan urusan pangan sebagai urusan yang wajib menjadi prioritas dari banyaknya urusan lain di Indonesia.

“Pangan sangat berpengaruh dan sangat menentukan arah kebijakan suatu daerah, terutama terkait pembangunan. Pangan sehat akan menghadirkan generasi muda yang sehat dan cerdas. Untuk itu, perbaikan SDM harus dimulai dari mengkonsumsi makanan sehat,” ujarnya dihadapan 100 orang dari, siswa dan guru SMA, mahasiswa, pelaku usaha, dharma wanita, dan ASN lingkup Sulbar.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah sudah membentuk satgas pangan di daerah untuk mengawasi pendistribusian pangan agar tidak ada oknum yang menimbun pangan yang bisa mengakibatkan kelangkaan pangan. Ini dilakukan untuk memastikan agar pangan bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat dimanapun berada.

“Keamanan pangan juga menjadi perhatian kita. Untuk apa persediaan pangan melimpah, tapi pangan tersebut tidak aman untuk dikonsumsi. Olehnya, keamanan pangan terus kita tingkatkan dengan melakukan pengawasan kepada pelaku usaha pangan di Sulbar,” ujarnya.

Hamsah menambahkan, penganekaragaman pangan harus terus di kampanyekan. Beras tidak boleh lagi dijadikan satu-satunya makanan pokok. Banyak makanan lokal memiliki nutrisi dan gizi yang tinggi, seperti ubi, jagung, sagu, pisang dan kedelai yang bisa dijadikan makanan pengganti beras.

Generasi muda dan masyarakat harus mengaplikasikan disersivikasi pangan dalam kehidupan sehari-harinya. Makanan pangan lokal harus dilestarikan dan dipertahankan dengan cara mengembangkan produksi pangan dengan beranekaragam.

“Kita berharap generasi milenial bisa mengkonsumsi makanan lokal sebagai makanan pokoknya. Generasi muda harus meninggalkan makanan siap saji yang kurang memiliki nutrisi dan gizi. Kita harus bersama-sama menggaungkan kepada masyarakat tentang begitu pentingnya konsumsi pangan lokal bagi kesehatan,” ujarnya.

Saya kira untuk mengkampanyekan pangan lokal tidak sulit. Karena masyarakat Sulbar sudah terbiasa mengkonsumsi pangan lokal. Apalagi, pangan lokal sangat mudah ditemukan di Sulbar.

“Kita harus terus mengembangkan olahan produksi pangan lokal di Sulbar.
Kita harus terus mengkampanyekan pangan lokal kepada anak muda saat ini yang lebih mencintai makanan siap saji agar beralih kemakanan yang bergizi dan bernutrisi,” ujarnya.

Kadis Ketahanan Pangan Sulbar H. Ridwan mengatakan, diversifikasi pangan menjadi salah satu tema penting dalam pembangunan ketahanan pangan di Indonesia. Diversifikasi pangan untuk meningkatkan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi
seimbang dan aman. Ini untukmewujudkan SDM yang sehat, aktif dan produktif.

“Kita harapkan, upaya diiversifikasi pangan tidak hanya sekadar kampanye. Tapi, gerakan ini harus diwujudkan untuk meningkatkan konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan seimbang. Kita harus mampu menciptakan pangan lokal yang menarik dan enak agar di sukai masyarakat,” ujarnya. (ian/rs)

Loading...

Komentar