oleh

Dari Lokalistik ke Universal

KEHADIRAN Islam di dunia ini bersifat universal, sekalipun tempat turunnya bersifat lokalistik yakni di timur tengah.

Oleh: Ilham Sopu (KBI Sulawesi Barat)

Ajaran-ajaran dasar Islam sangat mengedepankan nilai-nilai yang bersifat universal, rahmatan lil alamin. Kehadirannya juga untuk menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah penyempurna dari Islam yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.

Didalam agama setidaknya ada tiga ajaran dasar, yaitu iman, islam, dan ihsan. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dalam satu agama. Yang diterjemahkan dalam satu ungkapan. Inti dari agama adalah ma’rifatullah, inti ma’rifatullah adalah akhlak, inti akhlak adalah silaturrahim, dan inti silaturrahim adalah memasukkan rasa bahagia ke hati saudara saudara sesama manusia.

Begitulah orang yang beragama ibarat pohon punya akar yang kuat dan batangnya berdiri tegak dan daunnya rindang. Akar yang kuat menandakan bahwa imannya kuat, batangnya berdiri tegak menandakan istiqamah dalam menjalankan ajaran agama, daunnya rindang menandakan bahwa punya akhlak yang baik dan bermanfaat untuk sesama.

Keuniversalan Islam itu terdapat dalam prinsip prinsip dasar, seperti yang disimpulkan dalam rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan. Ketiga inilah yang menjadi prinsip dasar ke universalan Islam.
Adapun interpretasi dari ketiganya adalah bagian dari persoalan ijtihadia. Penafsiran penafsiran dari ketiganya itu yang akan menghasilkan khazanah intelektual yang membuat peradaban islam semakin maju. Kemajuan peradaban Islam pada masa lalu karena ketiga ajaran dasar Islam ini menyatu dalam pribadi seorang muslim.

Seorang ulama masa lalu adalah betul-betul ulama yang paripurna, keilmuannya bukan cuma satu aspek saja, tetapi seluruh aspek keilmuan dalam Islam betul-betul runtut dalam penguasaannya, penguasaan terhadap Alquran dan ilmu-ilmu Alquran, penguasaan terhadap hadis dan ulumul hadis, penguasaan terhadap sejarah, penguasaan bahasa dan ilmu alat kebahasaan dan hasil hasil pemikirannya itu menjadi ijtihad fiqhiyah dan terbakukan dalam kitab kitab fiqh yang banyak di baca orang sekarang.

Betapa banyak hasil hasil ijtihad yang ditelorkan ulama ulama dulu yang sudah dibakukan dalam bentuk kitab yang tebal, seperti karya Imam Al Gazali, Imam Syafi’i dan ulama ulama lainnya.

Dalam konteks hari ini, memang ada perbedaan antara ulama dulu dan ulama sekarang, tentunya perbedaan ruang dan waktu dan perbedaan tantangan yang mereka hadapi, dan spesifikasi keilmuan mengerucut dalam keilmuan hari ini, karena cabang keilmuan semakin berkembang dan banyak cabangnya, ulama hari ini sudah terkotak kotak dalam berbagai cabang ilmu.

Ada ulama yang terkonsentrasi di bidang tafsir, ada di bidang ilmu hadis, dibidang hukum Islam, di bidang pemikiran dan filsafat islam dan lain-lain. Itu karena tuntutan zaman dan perkembangan ilmu. Bukan berarti ulama-ulama modern yang terspesialisasi di satu keahlian tidak bisa berbicara bidang lain.

Pada prinsipnya mereka bisa, karena keilmuan dalam studi Islam saling terkait antara satu dengan lain. Misalnya penguasaan terhadap tafsir Alquran dibutuhkan ilmu-ilmu lain seperti ilmu bahasa Arab sebagai ilmu alat dalam mengkaji Alquran. Tetapi pengusaan ilmu diluar dan ilmu yang menjadi konsentrasinya itu tidak sama dalam penguasaannya.

Jadi, Islam hanya memberikan prinsip-prinsip dasar bersifat global, begitupun hadis sebagai penafsir dari pada Alquran hanya menafsirkan hal-hal kurang jelas dalam Alquran.

Penjelasan lebih terperinci diserahkan kepada para ulama kompeten di bidangnya lewat ijtihad. Nabi pernah bertanya ke Muadz bin Jabal ketika akan mengutusnya ke suatu daerah:
“Dengan apa kamu berhukum kalau ada permasalahan yang kamu dapati”
Muadz menjawab, “Dengan Alquran”
Nabi kembali bertanya, “Kalau kamu tidak mendapati dalam Alquran?”
Muadz menjawab, “Saya mencarinya di hadis”
Nabi kembali bertanya, “Kalau kamu tidak mendapatinya di hadis nabi?”
Muadz menjawab, “Saya berijtihad ya Rasulullah”.

Itulah metode menjawab berbagai permasalahan umat yang diberikan oleh Muadz bin Jabal, salah seorang sahabat Nabi. Dan Nabi tidak menyalahkan. Berarti bahwa secara hirarkis metode dalam penetapan hukum seharusnya berangkat dari Alquran, hadis dan ijtihad bil ra’yi.

Tentu saja perangkat ra’yun itu tidak bisa terlepas dari Quran dan hadis sebagai rujukan utama dalam memandu ra’yun supaya tetap berada kendali moral kebenaran.

Persoalan ijtihad sangat terkait keilmuan, persyaratan untuk berijtihad sangat berat, diperlukan berbagai perangkat keilmuan untuk melakukan suatu ijtihad. Oleh karena semakin terspesialisasinya ilmu sekarang ini, para cendekiawan muslim memberikan solusi terkait dengan ijtihad di era modern sekarang.

Dengan perkembangan ilmu yang sangat pesat dan keilmuan semakin terspesialisasi maka diperlukan suatu ijtihad secara kollektif.

Dalam menyelesaikan suatu persoalan keumatan diperlukan beberapa ahli dalam memberikan solusi, misalnya persoalan keagamaan, keterlibatan beberapa sarjana yang berasal dari berbagai latar keahlian untuk bermusyawarah bersama dan masing masing memberikan jawaban sesuai dengan latar belakang keilmuannya, dengan seperti ini akan menghasilkan suatu jawaban holistik atau jawaban peripurna.

Ini berbeda dengan ijtihad secara perorangan akan banyak terkontaminasi dengan hal hal yang sifatnya subyektif, karena pengaruh latar belakang keilmuannya. Ijtihad secara kollektif ini sebaiknya dipelopori organisasi organisasi seperti MUI, NU, Muhammadiyah dan lain-lain, yang dianggap punya reputasi dalam bidang keilmuan dan komitmen dalam memajukan suatu peradaban yang besar.

Itulah bentuk keuniversalan Islam yang diterjemahkan dalam bentuk ijtihad yang membuat Islam bisa masuk ke berbagai wilayah berbeda secara kultural dengan tempat turunnya Islam yakni di timur tangah. Al Islam salihun li kulli zamanin wa makanin (Pambusuang, 12 september 2019). (***)

Loading...

Komentar