oleh

Capaian Peserta KB Baru Rendah, BKKBN Harapkan Dukungan Pemda

MAMUJU, RADAR SULBAR — Capaian peserta KB baru di Sulbar hingga september 2019 mencapai 17.909 dari target 33.606 atau 53.29 persen. Capaian ini masih rendah, mengingat hanya tersisa tiga bulan masa kerja di tahun 2019. Olehnya, pihak BKKBN Sulbar terus melakukan sinergitas dengan Pemerintah Daerah Kabupaten se-Sulbar untuk melakukan intervensi kepada masyarakat melalui sosialisasi dan advokasi.

Hal ini diutarakan Kepala BKKBN Sulbar Hj. Andi Ritamariani Basharu saat mengadakan jumpa pers di kantornya, Jumat 1 November 2019.

Dari capaian tersebut, lanjut Ritamariani, Kabupaten Majene merupakan kabupaten yang capaiannya tertinggi, yakni 2.965 dari target 4.105 atau 72.23 persen. Sementara terendah ada di Kabupaten Mamuju Tengah yakni 1.322 dari target 3.562 atau 37.11 persen.

Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa masuk capaian rendah karena belum mencapai 50 persen, yakni Kabupaten Polman 5.101 dari target 12.624 atau 40,41 persen dan Mamasa 1.305 dari target 2.766 atau 47.18 persen.

Sementara capaian Kabupaten Pasangkayu mencapai 2.407 dari target 3.550 atau 67.80 persen dan Kabupaten Mamuju 4.809 dari target 6.999 atau 68.71 persen. Capaian ini sudah tergolong tinggi karena mendekati angka 70 persen.

“Keterbatasan SDM salahsatu hal yang mempengaruhi rendahnya target capaian pengunaan KB baru di kabupaten. Bayangkan ada satu orang penyuluh membina sampai delapan desa, jadi bagaimana bisa maksimal pencapaiannya,” ujarnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, BKKBN Sulbar terus melakukan sinergitas dengan pemda untuk melakukan intervensi pada masyarakat, karena dorongan dari pemda sangat dibutuhkan dan merupakan salahsatu penentu keberhasilan program. Selain itu, BKKBN terus menggenjot pengunaan KB baru di kabupaten yang masih rendah capaiannya, terutama di Kabupaten Mateng.

“Kita sangat membutuhkan dorongan dari pemda di kabupaten se-Sulbar. Kita berharap pemda bisa bersama-sama BKKBN untuk terus mensosialisasikan dan mengadvokasi masyarakat agar memahami dan mau mengikuti program yang kita tawarkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, BKKBN juga membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang ikut dalam program KKBPK disejumlah daerah di Sulbar baik secara individu maupun komunitas, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas pramuka, majelis taklim, darma wanita, PKK, dan lainnya. Mereka akan membantu BKKBN untuk melakukan sosialisasi dan advokasi kepada masayarakat.

“Semua kita libatkan untuk memudahkan kami memberikan informasi kepada masyarakat seputar program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Sulbar,” ujarnya.

Adapun jenis alat kontrasepsi yang paling diminati pengguna baru yakni, suntik sebanyak 9.011. Selanjutnya, alat kontrasepsi pil sebanyak 4.874, implant sebanyak 2.052, Intrauterine Device (IUD) sebanyak 713, kondom sebanyak 686, Metode Operatif Wanita (MOW) sebanyak 549, dan Metode Operatif Pria (MOP) sebanyak 24.

Sementara itu, untuk capaian peserta KB aktif di Sulbar hingga september 2019 sudah melampaui target. Dari target 126.427, saat ini sudah mencapai 153.371 atau 121.31 persen pengguna alat kontrasepsi aktif.

“Pengguna suntik paling banyak yakni 68.009. Selanjutnya, pil sebanyak 47.904, implant sebanyak 23.364, IUD sebanyak 6.382, MOW sebanyak 3962, kondom 2.995, dan MOP sebanyak 755 pengguna,” ujarnya. (ian/rs)

Loading...

Komentar