oleh

Bukan Sekadar Mengajar

Oleh: Hamzah, SPd.I (Alumni Pesantren Nuhiyah Pambusuang)

“MENCARI ilmu itu mulia, lebih mulia lagi ketika mengajarkan kepada orang lain”. Demikian kata cendekiawan.

Pada dasarnya semua manusia bisa mengajar, tapi dalam realita kehidupan, dunia bukan hanya butuh pengajar ilmu. Lebih dari itu, dunia butuh pengajar kehidupan yang akan mengajari manusia mengenal dan memahami kehidupan dengan baik.

Sebab, setiap anak manusia dilahirkan tidak berdaya. Dia lahir tidak dilengkapi insting sempurna untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan ia hidup. Manusia perlu masa belajar panjang sebagai persiapan untuk menjalani proses kehidupan.

Pendidikan baik bukan sekedar menjadikan peserta didik menguasai berbagai disiplin ilmu atau sekadar pintar, tetapi harus mampu menjadikan peserta didik mandiri, bersikap bijak dalam menghadapi setiap persoalan dan mampu menemukan jati diri kemanusiaannya.

Maka dari itu, ketika seseorang telah memutuskan menjadi seorang guru, pengajar atau pendidik, harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, totalitas; tenaga, pikiran, hati, dan keikhlasan. Tidak boleh hanya sambilan.

Mendidik anak di zaman sekarang sesuai yang diharapkan memang merupakan perkara hampir mustahil terwujud, mengingat perkembangan zaman dan pola perilaku manusia hari ini semakin jauh dari kata “beradab”. Sisi moral kian tergerus oleh ganasnya gaya hidup yang serba hedonis dan materialis. Realitas kehidupan makin mengarah pada krisis yang parah.

Mendisiplinkan satu orang saja susahnya luar biasa, apalagi mendidik puluhan anak agar menjadi manusia yang berkarakter dan bermoral, bisa dibayangkan bagaimana tantangannya?
Wajar, jika ada yang bilang “memelihara dan menertibkan seratus ekor kambing jauh lebih mudah daripada mendidik seorang anak agar menjadi manusia yang berkualitas”. Mungkin ini salah satu hikmah kenapa hampir semua utusan Tuhan pernah menjadi penggembala domba/kambing, agar mereka terlatih untuk mendidik umatnya kelak.

Kita semua telah menyadari bahwa krisis bangsa ini adalah krisis karakter, jika kekayaan sirna sesungguhnya tidak ada yang hilang karena kekayaan masih bisa didapatkan kembali. Tetapi bagaimana jika karakter dan moralitas yang hilang? Maka semuanya akan hilang dan bahkan tidak dapat dikembalikan lagi.

Seseorang yang jujur ketika diketahui bahwa dia telah membohongi yang lain, maka kepercayaan itu tidak akan seperti semula lagi. Semuanya akan hilang dan berantakan termasuk semua kebaikan yang pernah diperbuatnya. Dalam sejarah bangsa-bangsa mengkonfirmasikan bahwa tidak pernah ada satu bangsa di dunia hancur karena kekurangan orang pintar, justru karena hilangnya moral bangsa tersebut.

Lembaga pendidikan seperti sekolah atau madrasah yang didalamnya terdapat guru dan mu’allim dianggap sebagai wadah tepat membentuk manusia berkarakter dan bermoral. Hasil dari usaha mendidik anak manusia tentu saja dipengaruhi siapa yang menjadi pendidik, pelatih atau pembinanya. Sikap, karakter dan kecenderungan si pendidik akan berpengaruh langsung pada perkembangan emosi dan pribadi murid selama proses pendidikan.

Karakter seorang anak yang sulit dibentuk memang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk guru. Bisa jadi perilaku negatif anak didik, disebabkan gurunya. Sebab, siswa berkualitas lahir dari guru berkualitas pula. Demikian sebaliknya (ini yang umum terjadi).

Guru yang baik dan berkarakter bisa menjadi teladan untuk yang lain. Idealnya, setiap guru mendisiplinkan dirinya terlebih dahulu kemudian mendisiplinkan diluar dirinya. Namun kenyataannya, mayoritas guru sering melalaikan tugasnya sebagai pendidik.

Tanpa disadari mereka hanya bisa mentransfer ilmu pengetahuan di kelas saja, tanpa peduli perkembangan emosi dan pribadi anak. Padahal sebagai guru, seharusnya mampu menyertakan kedisiplinan itu ke dalam pengajaran.

Pada prinsipnya seorang guru atau pendidik harus mampu memberikan teladan dan mengarahkan perilaku murid menjadi lebih baik dan berkarakter. Olehnya, pendidik diharap tidak hanya mengajar ilmu pengetahuan, juga harus mampu mengajar kehidupan untuk sang murid sebagai bekal menyongsong masa depan.

Dalam kehidupan sehari-hari masalah yang sering muncul bukan hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi kadang kita dihadapkan pada situasi terkait nilai emosi dan estetik. Sehingga, pintar saja tidak cukup dijadikan bekal dalam mengelola organisme kehidupan.

Orang boleh saja berbangga ketika meraih prestasi akademik dengan segudang penghargaan, tetapi itu bukanlah sebuah jaminan bahwa dia akan selamat dari hantaman kerasnya kehidupan. Begitu banyak persoalan harus diselesaikan dengan kecerdasan emosi, bahkan spiritual, bukan kecerdasan intelektual.

Sejarah mencatat, betapa pun suatu bangsa yang besar seperti Romawi dengan peradaban dan kemajuan teknologi serta perkembangan ilmu pengetahuan pesat, berhasil diruntuhkan oleh kaum yang setengah biadab. Demiklan juga kerajaan Abbasyiah dengan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan sangat tinggi, diruntuhkan bangsa Mongol yang tidak mengenal kebudayaan.

Peristiwa yang dialami bangsa-bangsa besar di masa lalu mengajarkan kepada kita bahwa tidak pernah ada suatu bangsa yang hancur karena krisis intelektual, tetapi karena krisis akhlak, nilai dan kemanusiaan.

Nilai adalah kebutuhan jiwa yang mampu mendidik manusia menjadi sosok yang paham tentang perputaran roda kehidupan. Nilai dan pelajaran hidup tidak cukup hanya dipahami seperti mengumpulkan informasi dan pengetahuan lalu diujikan di atas kertas, tetapi ia harus disadari sebagai petunjuk Tuhan menuju kesempurnaan.

Menjadi manusia langka atau bijak tidak sekedar diukur dari kepandaiannya berbicara atau kelihaiannya menyusun kata-kata mutiara, tidak juga berdasarkan berapa banyak buku yang ia baca atau seberapa tua dia.

Bijak sepatutnya diukur sejauh mana seseorang mampu mengelola setiap persoalan yang hadir dalam kehidupannya agar menjadi lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak.

Oleh sebab itu, kalau mengajar hanya sekedar mengajar ilmu, tanpa dibarengi mengajar kehidupan, maka pendidikan seperti ini hanya akan mencetak sosok manusia pintar bermental materi dan tidak memiliki karakter.

Padahal seharusnya yang lebih diutamakan dari proses pendidikan adalah melahirkan manusia ‘langka’, yaitu manusia bijak yang mengerti dan berani dalam menghapi dinamika kehidupan.
Seperti kata pepatah manusia yang cerdas mudah ditemukan, tapi manusia yang berkarakter dan berakhlak sulit dicari. (***)

Loading...

Komentar