oleh

Toleransi Antar Umat Beragama Terjalin Baik di Sulbar

MAMUJU–Kementerian Agama Sulbar melalui Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen menggelar dialog Kerukunan Intern Pimpinan Sinode/ organisasi keagamaan kristen, Sabtu 21 September, di Mamuju. Dengan mengangkat temanya; “Merajut Kerukunan Intern Umat Kristen Demi Terwujudnya Moderasi Beragama serta Menciptakan Toleransi dalam Keberagaman”.

Tujuannya, menjalin silaturahmi dan memupuk rasa persaudaraan pimpinan gereja se-Sulbar sebagai tim work, kompak dan saling mendukung dalam pelayanan kepada umat dan masyarakat kristen.

Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI Prof. DR. Thomas Pentury mengatakan, negeri Indonesia hanya bisa menjadi negeri yang maju, modern dan berkembang secara baik jika mampu menghargai kemajemukan. Itu menjadi suatu nilai yang harus di hargai untuk menciptakan kedamaian. Gereja, pendeta dan tokoh masyarakat harus hadir mewujudkan hal tersebut.

“Secara umum, toleransi antar umat beragama di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami peningkatan dan membaik. Nilai-nilai budaya sangat kuat mengikat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan 45 para pimpinan sinode/organisasi keagamaan kristen Se-Sulbar.

Selain itu, lanjut Thomas, gereja dan pendeta harus mampu merubah perspektif berfikir mereka dengan tidak hanya berorientasi kepada pengembangan kemampuan tata liturgi ibadah dan teologi yang kontekstual. Tapi juga harus melihat pembangunan SDM jemaat melalui aspek pendidikan dengan mengarahkan program-program gereja kepada peningkatan SDM lewat pendidikan. Alokasi anggaran, alokasi sumber energi harus banyak untuk pembangunan SDM. Entah itu pendidikan formal, non formal atau informal itu harus dikerjakan.

“Itu yang harusnya menjadi cara berfikir gereja saat ini. Pilihan gereja untuk merubah perspektif membangun SDM lewat pendidikan menjadi pilihan yang rasional dan masuk akal. Jangan hanya membangun fisik dan seremoni saja seperti membangun gedung gereja yang bagus namun tidak membangun SDM melalui pendidikan. Kita harus mengalokasikan dana pendapatan gereja untuk pendidikan. Saya meminta agar para pendeta melakukan hal itu,” lanjutnya.

Ia menambahkan, tugas gereja juga harus mampu menyiapkan generasi muda yang baik dan berprestasi. Makanya perspektif pendidikan harus menjadi perhatian gereja jika ingin mendapatkan generasi penerus yang semakin baik. Jika generasi tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih, maka akan sulit untuk memahami konsep keagamaan. “Oleh karena itu, generasi harus disiapkan dengan baik dengan memberikan porsi anggaran pendidikan di setiap gereja,” ujarnya.

Kanwil Kemenag Sulbar. Muflih B Fattah mengaku, telah mengayomi semua Agama dengan baik di Sulbar. Semua satuan kerja (Satker) di Kanwil Kemenag Sulbar mendapatkan anggaran pembinaan pelayanan dan pendidikan sesuai dengan proporsional. Selain itu, pihaknya juga sudah menyentuh rumah-rumah ibadah dan lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan, juga sudah memberikan bantuan sosial kepada kegiatan-kegiatan umat kristen di Sulbar.

“Saat ini, anggaran untuk keagamaan di Kanwil Kemenag Sulbar memang anggaran itu dibagi secara proporsional dengan mempertimbangkan besaran jumlah pemeluk agamanya. Saat ini, pemuka agama, tokoh masyarakat kristen, sangat memahami bagaimana moderasi beragama, saling menghormati dan menjaga kebersamaan umat,” ujarnya.

Pembimas Kristen Kanwil Kemenag Sulbar Ayub mengatakan, saat ini jumlah umat kristen di Sulbar mencapai 208.618 jiwa atau sekitar 15 persen dari jumlah penduduk Sulbar. Sementara jumlah rumah ibadah sebanyak 1.111 buah. “Saat ini di Sulbar tidak ada konflik terkait pelarangan pendirian rumah ibadah seperti yang terjadi di daerah lain di Indonesia. Toleransi antar umat beragama di Sulbar terjalin dengan sangat baik,” ujarnya. (ian)

Loading...

Komentar