oleh

Meretas Ketertinggalan Dalam Memajukan Pendidikan Era Milenial

Mengamati pendidikan milenial mengalami perkembangan pesat dari segi tehnologi, mengakibatkan guru mengikuti arus pendidikan milenial.  Wilayah pelosok memiliki  pendidikan bersifat dinamis dikarenakan buta terhadap perkembangan globalisasi.  Pendidikan membutuhkan power untuk mendongkrak ketertinggalan dalam menumbuhkan peserta didik berintelektual.  
Oleh :  Ma’ruf, S. Pd.I
*Guru MTs. Husnul Khatimah Polewali Mandar
PERUBAHAN secara totalitas dapat terlihat dari karakter peserta didik seperti,  meningkatnya kesadaran moral dalam mengimplementasikan nilai relegius.  Tolak ukur  kemajuan pendidikan dilihat dari banyaknya guru menggunakan tehnologi dalam menjalankan proses pembelajaran.  Beberapa peserta didik dibagian pelosok memiliki pendidikan dengan perkotaan sangat berbeda mengakibatkan tidak memiliki keseimbangan terhadap era digital yang terbangun di wilayah perkotaan.
Beberapa pelosok di Indonesia merasakan hirak pikuk mengenai pendidikan, sebab  ketertinggalan mengakibatkan peserta didik teraliansi dari peradaban modern.  Membangun sebuah peradaban modern dimulai sejak usia dini dengan memperkenalkan dampak positif penggunaan tehnologi. Berbagai ragam model tehnologi digunakan untuk memperkaya pengetahuan, bertujuan menumbuhkan kesadaran peserta didik dan menetralisir ketertinggalan zaman milenial.
Beberapa orang tua memahami zaman milenial dengan menggunakan prespektif ekstrim akhirnya melarang peserta didik mengikuti perkembangan tehnologi tersebut.  Ada sebagian orang tua tidak memberikan kebebasan terhadap anak menggunakan gadget, sehingga memicu melakukan tindakan kriminal seperti,  membunuh kedua orang tua dan mengomsumsi obat terlarang.  Setiap zaman memiliki kemajuan menselaraskan peserta didik dengan zaman yang baru.
Peserta didik yang tinggal di wilayah pelosok berkeinginan melanjutkan pendidikan di perkotaan bertujuan meningkatkan paradigma memajukan mutu pendidikan, namun anehnya memiliki tingkah laku kurang etis terhadap perkembangan zaman seperti,  penggunaan media online maupun tehnologi.  Pergerakan dibagian pelosok berupa media belum tersentuh media internet akibat masih menggunakan manual dalam mengelolah pembelajaran,  akhirnya berdampak stres melihat perkembangan zaman bersifat digital.
Dalam hal ini pendidikan membutuhkan metode untuk meretas ketertinggalan zaman milenial melalui peningkatan media pembelajaran.  Media elektronik membantu pendidikan meningkatkan mutu pembelajaran dengan mengikuti arus perkembangan zaman.  Tantangan milenial akibat beredarnya di media sosial penggunaan elektronik mematikan pergerakan peserta didik seperti,  menggunakan obat terlarang maupun berjudi melalui media online.  Pembentukan moral solusi menyelesaikan ketertinggalan dari milenial, majunya zaman terlihat dari perkembangan karakter peserta didik.
Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan informasi yang dilansir dengan data UNESCO (2000) mengenai peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun, menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari setkab.go.id, Bapak pendiri bangsa Presiden Joko Widodo mengakui bahwasannya, metode pendidikan kita sudah terlalu lama monoton, terjebak pada rutinitas. Kalau tidak kita rombak, tidak diubah secara total, maka dibutuhkan 128 tahun bisa menyamai negara-negara maju saat ini sebagaimana ditulis oleh seorang profesor dari Harvard.
Kendati butuh waktu yang lama, ternyata nominal itu belum mampu mendongkrak mutu ketertinggalan pendidikan di era globalisasi di Indonesia saat ini. Pendidikan masa kini tidak terlepas dari peranan pendidik berperan penting sebagai media pembelajaran yang harus dituntut mampu dalam mewujudkan serta mengayomi masyarakat agar mampu menempuh pendidikan yang lebih baik.
Memajukan pendidikan dari ketertinggalan tidak terlepas dari peningkatan sumber daya manusia untuk merubah karakter menjadi lebih optimis dalam menumbuhkan kualitas peserta didik.  Pendidikan jantung perubahan menjadi peserta didik berkarakter maupun bermoral dalam mengurangi krisis mental menghadapi zaman milenial yang dapat menjual idealisme seperti,  mengikuti perbuatan tidak dilandasi nilai hukum, akhirnya menghalalkan segala cara.
Salah satu cara dilakukan pemerintah mengurangi ketertinggalan pendidikan di bagian pelosok memberikan fasilitas untuk mengurangi peserta didik yang tidak cinta terhadap dunia tehnologi.  Perubahan akan nampak di wilayah pelosok ketika seluruh elemen menggunakan media sebagai sarana kebutuhan pendidikan.
Seyogyanya pendidikan di negeri ini masih jauh dari harapan bangsa yang implikasinya dirasakan langsung oleh semua pelajar bahkan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga memberikan batasan dan ruang bahkan melahirkan sekat antara si miskin dan si kaya. Sebab dalam prakteknya menunjukan keberpihakan keadaan pemegang modal kekuasaaan karena pendidikan dalam prakteknya sudah menjadi barang komoditas pasar.
Landasan hukum dan jaminan konstitusi terkait dengan pemenuhan hal dalam mendapatkan pendidikan mengalami distorsi bahkan dicederai oleh kepentingan para penguasa. Sehingga pendidikan menjadi ruang pemisah bagi masyarakat. Subtansi dari peraturan pemerintah itu sendiri semakin terlihat bobrok dengan hancurnya pendidikan di negeri ini. ***
Loading...

Komentar