oleh

PIFAF: Sebuah Perhelatan Budaya?

Globalisasi selalu memiliki dua sisi yang berdampak pada objek yang disentuhnya. Bagaikan pisau bermata dua diayunkan ke arah yang berlawanan akan memotong apapun yang disentuhnya. Polewali Mandar International Folk and Art Festival (PIFAF) merupakan bentuk dari persentuhan Globalisasi dan Budaya lokal.

Oleh: Abd. Karim
Alumni Program Magister Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia
karimkemensos@gmail.com

BUDAYA selalu terbuka, sifatnya yang dinamis membuat apa saja bisa menyentuhnya termasuk globalisasi. Persentuhan itu tentu saja memberikan dampak terhadap Budaya Mandar dalam hal ini kaitannya dengan konteks perhelatan tahunan di Polewali Mandar itu.

Beberapa respons muncul dari beberapa kalangan di Polewali Mandar. Disatu pihak mengkritik habis-habisan kegiatan tersebut disisi lain mendukung acara PIFAF. Perbedaan itu tentu sangat kompleks, banyak hal yang mendukung sikap mereka mulai dari soal Budaya, Pembangunan daerah, norma, nilai bahkan kepentingan.
Kondisi itu secara tidak sadar merupakan dampak dari Globalisasi. Sebagai Subyek Globalisasi menyayat dua kubu yang bertikai itu. Lebih elok apabila fenomena dua kubu ini dilihat dari sudut pandang budaya. Belum lagi perhelatan PIFAF merupakan pertunjukan budaya.

Budaya dalam continuum akan menghasilkan dua bentuk yakni sebuah gagasan (idealistic view) dan entitas fisik (matrealistic view). Ruang Idealistik berada pada tataran filsafat, susastra, linguistic dsb sedangkan matrealistic berada pada tataran hasil dari budaya itu sendiri berupa artefak ataupun hasil-hasil lain berupa materi. Menurut Krober dan Kluckhon dalam Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions (1963:357), Ruang Idealistik yang dirasuki oleh tindakan akan menghasilkan materi. Fenomena PIFAF merupakan arena dari budaya yang telah berada pada tataran materi karena yang ditampilkan adalah produk dari budaya Mandar.

Hadirnya Budaya dari berbagai belahan dunia. Tujuh Negara ikut serta dalam perhelatan tersebut di antaranya Korea, Ceko, Tumur Leste, Slovakia, Ekuador dan India. Budaya yang dibawa oleh masing-masing Negara merupakan sebuah representasi dari Globalisasi. Perwujudan itu kemudian ikut bermain dalam arena event dan bertemu dengan Budaya Mandar. Selain itu, Arena PIFAF juga menghadirkan norma dan nilai-nilai Orang Mandar. Sering kali norma dan nilai sifatnya ketat. Kondisi itu memaksa Globalisasi berhadapan dengan Budaya yang dinamis dan norma yang ketat.

Budaya bisa saja menerima globalisasi itu sendiri tetapi norma dan nilai tidak akan semudah itu menerima. Pakaian, tarian, tingkah laku dsb menjadi materi utama dalam arena PIFAF. Materi itu kemudian berhadapan dengan sesuatu yang idealistik yakni nilai dan norma sedangkan materi yang tampil tidak diproduksi dari “pabrik” budaya Orang Mandar. Tentu saja kondisi itu akan mengundang resistensi kemudian konflik “tidak terbuka” lahir.

Terlepas dari pertikaian dua kubu yang mempermasalahkan soal dana PIFAF. Konflik Budaya yang “tidak terbuka” merupakan hasil dari persentuhan globalisasi maka wajar saja ada reaksi penolakan akan acara tersebut. Belum lagi terkait dengan norma dan nilai-nilai ke-Mandaran. Jelas akan terjadi benturan karena terdapat dua bentuk budaya yang berada dalam satu arena. Sebuah kewajaran apabila terjadi resistensi. Hanya saja ranah budaya tidak hanya sampai pada tarian dan nyanyian saja. Produksi budaya itu hanya sebahagian kecil dari perwujudan budaya. Gagasan, tingkah laku dan materi merupakan tiga perwujudan utama dari budaya. Tarian dan nyanyian berada pada tataran materi.

Konflik Budaya dalam arena PIFAF akan terminimalisir apabila mewadahi tiga perwujudan Budaya itu sendiri. Perhelatan tersebut harus melihat bagaimana gagasan atau fikiran Orang Mandar dan peserta yang diundang, Tingkah laku Orang Mandar dan Peserta yang diundang dan Materi yang dibawakan. Sebaiknya PIFAF membuka arena untuk lingkaran Idealistik yang terdiri dari produksi pengetahuan diantaranya membuka workshop untuk pengetahuan kongkritnya Simposium Budaya ataupun Seminar Internasional. Sekiranya PIFAF tidak akan hanya menjadi perhelatan seni saja tetapi menjadi perhelatan budaya seutuhnya. ***

Loading...

Komentar