oleh

Pemerintah Andalkan Pariwisata Bisa Genjot Pertumbuhan Ekonomi

JPNN.COM–Pemerintah bakal menggenjot pertumbuhan ekonomi pada semester kedua 2019. Setidaknya ada dua cara yang akan dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang hanya 5,06 persen pada semester pertama 2019.

Dua strategi itu ialah mendorong sektor pariwisata dan pemberian insentif untuk industri. Pemerintah telah menetapkan empat lokasi wisata prioritas yang akan dikembangkan. Yaitu, Danau Toba di Sumatera Utara, Candi Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur).

”Kita ingin ini bisa jadi destinasi wisata level internasional,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Perekonomian Ahmad Erani Yustika, Selasa 6 Agustus.

Dia berharap pengembangan destinasi wisata tersebut akan memperbaiki defisit transaksi berjalan, khususnya defisit neraca jasa.

Selain itu, pengembangan infrastruktur untuk lokasi-lokasi wisata tersebut akan menyerap lebih banyak tenaga kerja dan mendatangkan investasi.

Pemerintah juga sedang menggodok berbagai skema insentif. Pemerintah pun tengah meninjau ulang apakah perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang menahan labanya agar tetap stay di Indonesia dan tidak dibawa ke luar negeri perlu diberi tambahan insentif fiskal.

Misalnya, dari sisi pajak, bea masuk, atau bea keluarnya. Skema insentif lain juga terbuka untuk ditinjau.

Contohnya, apakah perlu insentif nonfiskal untuk perusahaan PMA tersebut dari sisi tenaga kerja atau ada perlakuan khusus dari sisi bea dan cukai ketika perusahaan PMA itu menginvestasikan mesin berteknologi baru ke Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menambahkan, pihaknya siap meluncurkan hasil penghitungan produk domestik bruto (PDB) sektor pariwisata akhir tahun ini.

PDB pariwisata dihitung karena kontribusinya terhadap perekonomian diperkirakan cukup tinggi. ”Kami sudah menghitung PDB ekonomi kreatif sejak tiga tahun lalu. PDB pariwisata juga sudah klir ruang lingkupnya karena sebetulnya pariwisata itu subsidi dari PDB kita,” ujarnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengisyaratkan bersikap realistis atas pertumbuhan ekonomi tahun ini. Dia secara tidak langsung mengakui bahwa peluang untuk mencapai pertumbuhan sesuai target awal 5,3 persen berat. ”Kalau 5,1 atau 5,2 (persen) masih bisa,” terangnya. (rin/byu/c6/oki)

Loading...

Komentar