oleh

Reinvensi 17 Agustus

Agustus menjelang. Bulan ini mungkin bulan biasa bagi banyak manusia di muka bumi. Tapi tidak bagi Indonesia. 17 Agustus adalah tanggal yang sakral bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal ini, segenap manusia Indonesia bergembira merayakan hari lahirnya bangsa mereka di dunia.

Oleh Endriady Edy Abidin, Akademisi Unsulbar

DOMINASI kolonialisme telah menyatukan negara-negara Nusantara menjadi satu kesatuan nasion yang memerdekakan dirinya pada 17 agustus 1945. Jadilah 17 agustus hari suci bagi bangsa yang masih sangat muda ini. Ia dirayakan di seluruh sudut pertiwi dengan berbagai kemeriahan, dari panjat pinang hingga upacara bendera, dari balap karung hingga upacara bawah laut.

Berbagai kemeriahan tersebut tentunya tidaklah sesuatu yang tabu. Orang Indonesia pantas bergembira atas kemerdekaan atas dirinya sendiri setelah mereka terjajah di tanah mereka sendiri selama puluhan atau ratusan tahun oleh kolonial Eropa. Bangsa ini pernah menjadi bangsa kelas tiga di bumi yang telah mereka huni ribuan tahun. Kemerdekaan tentunya sebuah kenikmatan yang mereka dambakan sejak lama, setidaknya sejak awal abad ke-20. Ekstasi menjadi merdeka inilah yang terus berulang tahun ke tahun dalam perayaan yang kita lakukan setiap 17 agustus.

Namun seiring bertambahnya usia bangsa Indonesia, 17 Agustus seolah hanya menjadi rutinitas belaka. Ia hanya menjadi simbol kelahiran dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Yang sering terlupakan adalah mengapa bangsa Indonesia ada dan apa tujuan ia mengada. Zaman telah membawa amnesia pada bangsa ini pada sejarahnya sendiri, tentang tujuan mereka berbangsa satu.

Lantas apa tujuan bangsa Indonesia? Mari kita membuka kembali pembukaan konstitusi negara kita: UUD 1945. Di situ dijabarkan bahwa tujuan dari bangsa kita adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan-tujuan ini merupakan mimpi para pendiri bangsa kita agar anak cucunya kelak mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupan mereka sekaligus menciptakan ruang bagi generasi mendatang untuk hidup dengan kepala tegak dan setara dengan bangsa-bangsa lain.

Terlepas dari betapa seringnya kita mendengar pembukaan UUD 1945 ini dibacakan, betapa kita begitu jarang merenungi maknanya. Benarkah kita telah melindungi seluruh bangsa Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia? Apakah kita telah memajukan kesejahteraan umum? Apakah dunia pendidikan dan masyarakat kita telah membantu mencerdaskan kehidupan bangsa? Apa yang telah kita lakukan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut patut diulang kembali ketika kita melihat realitas bangsa hari ini. Di media kita menyaksikan bagaimana KPK menangkapi para pejabat publik, anggota DPR – DPRD, atau penegak hukum. Bukankah mereka adalah ujung tombak dalam melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia? Tindak korupsi yang hanya dihukum ringan mengakibatkan efek jera tidak mempan untuk meredam kejahatan luar biasa ini. Yang tidak disadari adalah korupsi telah merusak kehidupan publik, sesuatu yang seharusnya dilindungi dan dijaga.

Dalam laporan Oxfam, sebuah LSM internasional, pada 2017, tertulis bahwa dalam 20 tahun terakhir jarak ketimpangan ekonomi antara orang terkaya dan orang Indonesia kebanyakan semakin melebar, melebihi sebelumnya. Empat orang terkaya memiliki kekayaan yang hampir sama dengan setengah populasi Indonesia terbawah. Satu persen orang terkaya mengontrol 49 persen total kekayaan Indonesia. Lebih jauh, Indonesia menduduki ranking 6 negara terburuk kesenjangannya di dunia. Bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, Indonesia berada pada nomor urut satu. Pertanyaannya adalah apakah ini yang diidamkan pendiri bangsa kita dulu dengan istilah ‘memajukan kesejahteraan umum’?

Lihatlah universitas-universitas kita yang berlomba-lomba menjadi world class university, universitas kelas dunia. Pemeringkatan dan reputasi Internasional seolah menjadi tujuan utama dunia pendidikan tinggi kita. Pertanyaannya, inikah yang dahulu diidamkan oleh pendiri republik ini dengan impian ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’?

Jika tujuan yang termaktub dalam konstitusi kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah kelas dunia, tapi local class university, universitas-universitas yang mampu mencipta pengetahuan untuk konteks Indonesia dalam menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini termasuk membangun sumberdaya-sumberdaya cerdas yang akan bekerja untuk kemaslahatan bangsa. Saya sangsi jika Universitas Harvard atau Universitas Oxford begitu mendamba universitas kelas dunia dalam visi mereka. Mereka ada untuk memberikan pendidikan terbaik untuk bangsa mereka masing-masing, tidak untuk menjadi universitas kelas dunia.

Dalam melihat dunia, kita tidak lagi memiliki sosok great historical man, seperti bung Karno yang menggagas Konferensi Asia Afrika demi memperjuangkan bangsa-bangsa terjajah. Bung Karno tampil ke panggung dunia, memberikan gagasan tentang dunia dari sudut pandang Indonesia, untuk kemaslahatan umat manusia yang telah sejak lama terjajah oleh kekuatan Barat. Kita saat ini tidak lagi menemukan ide-ide Indonesia untuk umat manusia yang memperjuangkan keadilan sosial. Bahkan menurut Anthony Reid, sejarahwan Asia Tenggara di Universitas Nasional Australia, bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang paling tidak mampu menjelaskan dirinya pada dunia (Tempo, 2011).

Kita selayaknya belajar dari orang Amerika dalam kehidupan berbangsanya. Mereka ketika menemukan masalah pelik, mereka kembali pada the founding fathers, bapak pendiri bangsa, melihat apa pesan mereka bagi generasi mendatang. Pesan itulah yang dijadikan pegangan, karena itulah yang menjadi pemersatu Amerika dan penciri kehidupan berbangsa manusia-manusia Amerika. Dari situ kita perlu belajar banyak, bahwa kita-pun memiliki pesan-pesan founding fathers, yang seharusnya dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan berbangsa ini. Dan pesan-pesan itu yang terkandung dalam tujuan bangsa Indonesia yang terdapat dalam UUD 1945.

Di usia yang menjelang ke-74 ini, bangsa Indonesia tentunya bukanlah sebuah bangsa yang telah final. Bangsa ini masih akan terus berproses dalam evolusi menjadinya. Sebagai sebuah bangsa yang memiliki konsensus ke-Indonesiaan yang sangat kuat, bahkan mungkin salah satu yang terkuat di Asia, bangsa Indonesia masih akan terus ada jauh melebihi usia orang-orang yang akan merayakan kemerdekaan tahun ini. Generasi pasti berganti, namun tujuan kehidupan berbangsa haruslah tetap berpegang pada apa yang menjadi tujuan bersama seperti yang diamanatkan pendiri bangsa.

Maka sudah seharusnya-lah jika 17 Agustus menjadi momentum me-reinvensi kembali ke-Indonesiaan kita. Kita melakukannya setiap tahun agar tidak lupa siapa kita, asal kita, dan senantiasa mampu menempuh riak zaman dengan tetap kukuh pada prinsip pendiri bangsa. Indonesia ini adalah milik bersama yang harus dijaga dan dilindungi demi kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga yang akan datang. ***

Loading...

Komentar