oleh

20 Tahun Jualan Kayu Bakar Baru Bisa Naik Haji

* Semangat Nenek Ka’diang untuk Menunaikan Ibadah Haji 2019

Tak ada yang tak mungkin, bagi nenek berusia 69 tahun ini. Namanya, Ka’diang. Usia sudah 69 tahun. Tekad menunaikan ibadah haji sangat besar. Begitu besar, hingga butuh waktu 20 tahun menabung baru bisa naik haji. Warga Dusun Konja, Desa Pamboborang, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, tahun ini menunaikan ibadah haji.

Laporan: Mustafa Kufung, Majene

TEKAD Ka’diang menunaikan ibadah haji makin besar sepeninggal suaminya lantaran sakit. Sejak tahun 2011 melakoni hidup sendiri. Dia hidup terpisah dari empat anaknya –dua putra dan dua putri –karena masing-masing sudah berumah tangga. Cobaanya tak hanya itu. Gara-gara diketahui memiliki tabungan haji, ia dicoret dari bantuan beda rumah.

Ka’diang hanya bisa pasrah. Semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Rumah panggung berukuran 5 x 8 meter itu, seakan surga baginya. Dindingnya mulai lapuk, tak menurunkan semangat Ka’diang untuk terus menabung demi menunaikan ibadah haji. Dari 10 ribu hingga 20 Ribu simpan di rumahnya. Setelah mencukupi Rp 100 ribu atau lebih, ia pun menitipkan kepada keponakannya, Dahlia untuk disimpan.

Berutung bagi Ka’diang. Punya peninggalan keluarga, berupa kebun seperampat hektar. Dari kebun itulah yang menghasilkan kayu bakar. Setiap hari ia kumpulkan satu ikat, atau dua ikat. Kalau tak mengumpulkan kayu bakar. Ia, mengumpulkan sabuk kelapa. Setiap hari dibawa dua ikat untuk dijual di Pasar Camba. Untuk sampai di pasar, harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer. Bila jualan kayu cepat laku. Ia, ke rumahnya lagi mengambil, dan kembali lagi ke pasar. ”Ia nak, kalau lagi bagus rejeki bisa laku empat ikat sehari,” tutur Ka’diang yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Dahlia, keponakan nenek sembilan cucu ini, sangat ia percaya. Setiap ada uang hasil jualan kayu yang dikumpulkan diberikan kepada Dahlia untuk disimpan. Begitu terus dilakukan tahun demi tahun. Hingga tak terasa uang yang dikumpulkan Dahlia, mencapai Rp 21 juta.

Semangat Ka’diang berkobar, bagaikan api. Setelah tahu kalau uang dikumpulkan di keponakannya itu, mencapai Rp 21 juta. Tak ada rasa rentah lagi baginya. Sudah lupa bulan dan tanggal berapa, membuka tabungan haji. Yang diingat hanya tahunnya, yaitu tahun 2011, ia ke bank bersama Dahlia untuk menyetorkan Rp 21 juta.

“Setiap hari ku kumpul Rp 10 ribu. Kalau sudah cukup Rp 100 ribu atau Rp500 ribu, saya kasih ke Dahlia untuk disetorkan ke bank,” tutur Ka’diang, dalam dialek bahasa Mandar.

Ka’diang terus berupaya agar cepat menunaikan ibadah haji. Maka, ia mencoba usaha lain. Berjualan ikan. Ternyata tak cocok baginya. Tak ada bisa ditabung. Maka, ia kembali berjualan kayu bakar dan sabuk kelapa. Inilah terus dilakoninya. Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu, dikumpulkan dari hari ke hari. ”Pulang dari pasar jualan kayu, saya ke kebun lagi. Mencari kayu kabar atau membersihkan kebun,” kenang Ka’diang.

Penantian yang panjang, tak kena lelah itu. Terbayarkan. Saat mengatahui bahwa nilai tabungannya mencapai Rp 40 juta, dan sudah bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Tak ada bisa membayangkan bagaimana bahagianya. Ka’diang ketika itu. Ia, pun bersujud syukur kepada sang Khalid. Atas RahmatNya, bisa menunaikan ibadah haji.

Segala kelangkapan menunaikan ibadah haji sudah dikemas. Koper dan lainnya, tinggal dibawah saat pemberangkatan, Selasa 30 Juli mendatang. Ka’diang bergabung pada kloter 33, bersama 28 calon jamaah haji lainnya, asal Majene. Selamat jalan Ka’diang. Semoga kembali ke tanah air dengan hajja yang mabrur!!!. (***)

Loading...

Komentar